Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individual
1. Persepsi adalah proses
mengatur dan mengintepretasikan kesan sensoris untuk memberikan arti bagi
lingkungan.
*. Asumsi =
sebuah pengkondisian dari persepsi.
2. Faktor – factor yang
mempengaruhi persepsi :
a. Faktor yang terletak dalam
diri yaitu pembentukan persepsi.
(sikap, motif, minat, pengalaman, harapan)
b. Faktor yang berasal dari
objrk atau target yang diartikan.
c. Faktor situasi dimana
persepsi itu dibuat, meliputi : kapan dan dimana persepsi itu dibuat, keadaan kerja
dan kedaan social.
3. Teori Hubungan (Attribution Theory)
-
Usaha ketika individu – individu mengamati perilaku untuk
menentukan apakah hal tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
*. Penentuan
eksternal dan internal :
a. Kekhususan : apakah
perilaku seseorang akan berbeda dalam situasi – situasi yang berbeda juga.
b. Konsesus : suatu
situasi dimana individu merespon dengan cara yang sama.
c. Konsistensi : sesuatu
yang rutin terjadi.
4. Fundamental Attribution
Error
-
Kesalahan hubungan yang fundamental ini cenderung untuk
merendahkan faktor – faktor eksternal dan meninggikan faktor – faktor internal
ketika membuat penilaian terhadap orang lain.
5. Self-Serving Bias
-
Bias pemikiran diri sendiri cenderung bagi para individu
untuk menghubungkan keberhasilan mereka sendiri dengan faktor – faktor
internal, sementara menyalahkan faktor – faktor eksternal untuk kegagalan.
6. Common Shortcuts in
Judging Others :
a. Selective Perception =
bentuk bias yang menafsirkan informasi yang sedemikian rupa dan mengabaikan
sudut pandang lawan.
b. Halo Effect = kesan
menyeluruh akan seseorang dan memiliki pandangan yang berbeda dari orang lain.
c. Contrast Effect = reaksi
individu terhadap seseorang dipengaruhi orang lain.
*. Contoh : saat interview
d. Stereotyping = penilaian terhadap
seseorang dari karakteristik keseluruhan orang tersebut.
*. Contoh : usia, jenis kelamin, ras, agama
7. Specific Applications of
Shortcuts in Organizations
-
Employment Interview = informasi yang diberikan pada awal
interview sangat menentukan kesan yang diterima.
-
Performance Expectations = masyarakat cenderung memvalidai
persepsi mereka tentang suatu hal meski ada kemungkinan persepsi tersebut
salah.
-
Performance Evaluasi = evaluasi kinerja karyawan sangat
berhubungan dengan benefit atau timbale balik yang diberikan, seperti kenaikan
gaji, promosi, dll.
Decision Making in Organizations
1. Rational Decision Making
-
Pengambilan keputusan yang rasional bergantung pada beberapa
asumsi, yaitu decision maker harus memiliki informasi yang lengkap, mampu
mengidentifikasi semua opsi yang relevant tanpa bias, dan memilih opsi yang
dapat memberikan manfaat paling besar.
2. Bounded Rationality
-
Kemampuan memproses semua informasi terbatas, jadi menyederhanakan
masalah tanpa memikirkan kompleksitas – kompleksitas masalah.
3. Intuition
-
Pengambilan keputusan yang paling tidak rasional, tetapi
intuisi dan rasionalitas dapat mendukung satu sama lain.
·
Terms
Situasi / Item
|
Rasional
|
Rasional Terbatas
|
Intuisi
|
|
1. Ketersediaan Data
|
-
|
|||
2. Ketersediaan Waktu
|
-
|
|||
3. Banyaknya Alternatif
|
-
|
|||
4. Tingkat Kepentingan
|
||||
5. Resiko
|
-
|
-
|
||
6. Rutinitas
|
-
|
-
|
||
7. Orientasi Waktu
|
-
|
|||
8. Komplesitas
|
-
|
·
Common Biases and Errors in Decision Making
1. Overconfidence Bias
-
Memiliki pandangan yang tidak realistis akan diri sendiri dan
kinerjanya.
2. Anchoring Bias
-
Kecenderungan individu utuk tertarik pada info awal dan gagal
dalam menyesuaikan diri pada info selanjutnya.
3. Confirmation Bias
-
Kecenderungan individu mencari informasi yang menguatkan
pilihan – pilihan masa lalu dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan
penilaian masa lalu.
4. Availability Bias
-
Kecenderungan individu mendasarkan penilaian mereka pada
informasi yang sudah tersedia pada mereka.
5. Escalation of Commitment
-
Komitmen yang meningkat untuk sebuah keputusan meskipun
terdapat informasi negatif.
6. Randomness Error
-
Individu cenderung untuk percaya bahwa mereka dapat
memprediksi hasil dari peristiwa – peristiwa yang tidak disengaja.
7. Risk Aversion
-
Individu cenderung untuk lebih menyukai keuntungan rata –
rata jika ada resiko, meski jika resiko yang diambil dapat menghasilkan
keuntungan yang lebih besar.
(biasanya seseorang mengambil yang low risk)
8. Hindsight Bias
-
Kecenderungan kita untuk pura – pura yakin bahwa kita telah
memprediksi hasil dari sebuah peristiwa secara akurat, setelah hasil tersebut
benar – benar diketahui.
(keambiguannya tinngi, sifatnya mengalir)
Individual Differences
-
Pembuaatan keputusan dalam praktek dikarakteristikan sebagai
rasionalitas yang dibatasi, prasangka dan error yang umum, dan penggunaan
intuisi. Dapat menimbulkan penyimpangan dari model yang rasional.
·
Faktor – faktor yang mempengaruhi :
1. Personality
-
Kepribadian seseorang pasti mempengaruhi keputusan mereka.
2. Gender
-
Wanita memiliki tingkat depresi lebih tinggi daripada pria
ketika pertimbangan analisa yang dibuat hati – hati gagal.
3. Mental Ability
-
Orang dengan tingkat kemampuan mental yang tinggi dapat
memproses informasi lebih cepat, menyelesaikan masalah dengan akurat, dan
belajar lebih cepat.
·
Kendala Organisasi :
1. Performance Evaluation =
manajer sangat terpengaruh oleh kriteria apa yang akan dievaluasikan pada
mereka.
2. Reward System = system
penghargaan dari organisasi mempengaruhi pembuat keputusan dengan menyarankan
pilihan mana yang memiliki hasil personal yang lebih baik.
3. Formal Regulations = semua
organisasi, kecuali organisasi kecil, menciptakan aturan dan kebijakan untuk
mengatur keputusan dan membuat individu bertindak sesuai dengan aturan yang
ada.
4. System-Imposed Time
Constraints = semua keputusan penting mempunyai deadline yang jelas
5. Historical Precedents =
keputusan tidak dibuat dalam kekosongan, tetapi dibuat dalam konteks.
·
Langkah – langkah dalam pengambilan keputusan rasional :
1. Mengidetifikasi masalah
2. Mengidentifikasikan
kriteria keputusan
3. Mempertimbangkan keputusan
tersebut
4. Mengembangkan alternatif
5. Mengevaluasi alternatif –
alternatif yang ada
6. Memilih alternatif terbaik
·
Potensi yang kreatif
3 komponen model kekreatiftasan :
a. Expertise (keahlian) =
sebagai landasan dalam melakukan segala pekerjaan secara kreatif (mempunyai
pengetahuan, kemampuan, kecekapan dan keahlian serupa dalam bidang usaha
mereka).
b. Kemampuan berpikir secara
kreatif = kemampuan seseorang untuk menggunakan analogy dan kemampuan untuk
melihat yang serupa namun dari sisi yang berbeda.
c. Motivasi instrinsik =
merupakan keinginan untuk bekerja akan sesuatu hal dikarenakan pekerjaan
tersebut menarik, memuaskan atau menantang.
·
Global Impactions
1. Attributes
-
Perbedaan budaya dalam setiap orang berbeda – beda namun
sedikit banyak perbedaan budaya telah mempengaruhi sifat
seseorang.
2. Decision Making
-
Kita harus menyadari bahwa latar belakang budaya dari pembuat
keputusan itu dapat member dampak yang signifikan dalam melihat sebuah
permasalahan, pendalaman melakukan analisis, cara berpikir secara logika dan
rasional.
3. Etnik
-
Organisasi global harus menetapkan prinsip etika pada pembuat
keputusan dan mengubahnya dengan bercermin pada norma budaya yang ada.
STUDI KASUS
Contoh kasus :
Suatu perusahaan hendak merekrut
karyawan baru sehingga Manager HRD perusahaan melakukan wawancara terhadap para
pelamar. Ketika manager
memanggil 2 orang sekaligus untuk diwawancarai, orang pertama masuk dengan penampilan yang kurang baik
seperti pakaian yang memiliki noda, tidak memakai jas, rambut panjang, sepatu
yang sudah usam, Manager HRD langsung memberikan penilaian negatif kepada
pelamar tersebut karena melihat penampilannya yang tidak layak untuk datang di
dalam wawancara. Namun ketika
orang kedua masuk dengan pakaian rapi,wajah yang serius, dan berkharisma
Manager tersebut langsung memberikan penilaian positif kepada pelamar tersebut
bahwa pelamar ini yang lebih layak untuk masuk ke dalam perusahaan. Namun
selama wawancara berjalan ternyata pelamar dengan penampilan yang kurang baik tersebut
memiliki suatu cara pandang unik yang berbeda dari pelamar yang berpakaian lebih rapi, dan cara
berpikir pelamar tersebutlah yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan, sehingga
manager tersebut mengabaikan penampilan
pelamar tersebut dan menerima pelamar tersebut untuk bekerja di dalam perusahaan.
Analisis kelompok :
Dari cerita di atas dapat
dikatakan bahwa presepsi seseorang terhadap penampilan fisik tidak dapat
menjamin kinerja seseorang, meskipun penampilan merupakan salah satu kriteria
dalam wawancara, tetapi belum tentu
karyawan yang berkompeten adalah karyawan yang berpakaian rapi, serius, dan
terlihat memiliki karisma, bisa saja mereka memang pintar tetapi hanya dalam
teori, dalam prakteknya belum tentu pemikiran mereka yang dibutuhkan oleh
perusahaan. Justru orang-orang yang mungkin berpenampilan kurang menarik dan
biasa-biasa sajalah yang dibutuhkan oleh perusahaan, karena mungkin mereka
lebih banyak memiliki pengalaman dengan dunia luar dibandingkan dengan
orang-orang yang belajar hanya berdasarkan teori yang ditanamkan di dalam
pikiran mereka, sehingga mereka dapat melihat sesuatu dengan cara pandang yang
berbeda dengan orang yang hanya berpikir berdasarkan teori. Keputusan yang
diambil oleh manager tersebut sudah benar, karena penampilan seseorang dapat
diperbaiki namun cara berpikir seseorang tidak dapat dibentuk dengan mudah,
membutuhkan proses yang lama untuk membentuk pemikiran seseorang seperti yang
diinginkan oleh perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar